MAKALAH BLOK MUSKULOSKETAL
OSTEOPOROSIS

Di
susun oleh:
Mursidah
Silvia
ariska
Puteri
dianti
Indah
fortuna dewi
M.adi
bastian
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU
KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015/2016
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur Kami sampaaikan kehadiran ALLAH
SWT, karena dengan rahmat dan ridhonya kami mendapat hidayah sehingga kami
telah dapat Menyelesaikan makalah askep osteoporosis ini yang disusun
berdasarkan materi yang telah ditentukan; Materi yang kami tulis dalam makalah
ini memang masih minim , karena kami berharap mahasiswa dapat mengadakan
pengembangan diri untuk mencari lagi materi – materi yang belum lengkap. Kami
bertujuan dengan makalah ini dapat membantu kita untuk belajar mandiri dan juga
membuat mahasiswa lebih aktive dan giat dalam belajar.
Demikian makalah ini kami susun dan kami berharap bermanfaat dan dapat
mendapingi kita dalam proses belajar, dan kami juga mengucapkan terima
kasih banyak atas dukungan dari teman – teman dan dosen pembimbing kam.
Jambi 25 september 2016
penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................ i
DAFTAR ISI................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang.........................................................................................
1.2 Rumusan
Masalah....................................................................................
1.3 Tujuan
Penulisan......................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hidup sehat, bugar, dan tetap aktif
sekalipun di usia lanjut merupakan dambaan banyak orang. Namun, seiting
bertambahnya usia, fungsi organ tubuh pun berangsur – angsur menurun dan
berakibat timbulnya berbagai macam penyakit. Masalah kesehatan pada usia lanjut
yang sering di temui dan perlu mendapat perhatian adalah penyakit osteoporosis.
Osteoporosis atau pengoroposan tulang memang rawan menyerang orang - orang
berusia di atas 40 tahun, terutama pada kaum perempuan. Dari hasil penelitian
di amerika serikat pada orang berusia di atas 50 tahun, 1 dari 4 perempuan dan 1
dari 8 laki – laki terkena osteoporosis. Osteoporosis dapat dijumpai tersebar
di seluruh dunia dan sampai saat ini masih merupakan masalah dalam kesehatan
masyarakat terutama di negara berkembang. Di Amerika Serikat osteoporosis
menyerang 20-25 juta penduduk, 1 diantara 2-3 wanita post-menopause dan lebih
dari 50% penduduk di atas umur 75-80 tahun. Sekitar 80% persen klien penyakit
osteoporosis adalah wanita, termasuk wanita muda yang mengalami penghentian
siklus menstruasi (amenorrhea). Hilangnya hormon estrogen setelah menopause
meningkatkan risiko terkena osteoporosis.
Penyakit osteoporosis lebih banyak
menyerang wanita, pria tetap memiliki risiko terkena penyakit osteoporosis.
Sama seperti pada wanita, penyakit osteoporosis pada pria juga dipengaruhi estrogen.
Bedanya, laki-laki tidak mengalami menopause, sehingga osteoporosis datang
lebih lambat. Jumlah usia lanjut di Indonesia diperkirakan akan naik 414 persen
dalam kurun waktu 1990-2025, sedangkan perempuan menopause yang tahun 2000
diperhitungkan 15,5 juta akan naik menjadi 24 juta pada tahun 2015. Beberapa
fakta seputar penyakit osteoporosis yang dapat meningkatkan kesadaran akan
ancaman osteoporosis di Indonesia adalah Prevalensi osteoporosis untuk umur
kurang dari 70 tahun untuk wanita sebanyak 18-36%, sedangkan pria 20-27%, untuk
umur di atas 70 tahun untuk wanita 53,6%, pria 38%. Lebih dari 50% keretakan
osteoporosis pinggang di seluruh dunia kemungkinan terjadi di Asia pada
2050. Mereka. Satu dari tiga perempuan dan satu dari lima pria di Indonesia
terserang osteoporosis atau keretakan tulang. Dua dari lima orang Indonesia
memiliki risiko terkena penyakit osteoporosis. Berdasarkan data Depkes, jumlah
klien osteoporosis di Indonesia jauh lebih besar dan merupakan Negara dengan
klien osteoporosis terbesar ke 2 setelah Negara Cina.
1.2 Rumusan
Masalah
1. Apakah yang dimksud dangan osteoporosis?
2. Apa penyebab osteoporosis?
3. Apa gejala yang ditimbulkan osteoporosis?
4. Bagaimana pengobatan osteoporosis?
5. Bagaimanakah pencegahannya?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah
ini yaitu sebagai proses pembelajaran mahasiswa dalam memahami Osteoporosis,
dan mahasiswa mampu memahami defenisi, etiologi, manifestasi klinis,
klassifikasi, penatalaksanaan medis dan keperawatan serta asuhan keperawatan
dari Osteoporosis.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
defenisi
Osteoforosis
adalah suatu penyakit dengan tanda utama berupa berkurangnya kepadatan massa
tulang, yang berakibat meningkatnya kerapuhan tulang dan meningkatkan resiko
patah tulang. Massa tulang laki – laki dan perempuan akan berkurang seiring
bertambahnya usia. Masa tulang pada perempuan berkurang lebih cepat di
bandingkan dengan laki – laki. Hal ini disebabkan pada massa menopause,
fungsi ovarium menurun drastis yang berdampak pada berkurangnya produksi
hormonestrogen dan progesteron. Saat hormon estrogen turun kadarnya karena usia
yang lanjut ( menopause ), terjadilah penurunanaktivitas osteoblas (
pembentukan tulang baru ) dan peningkatan kerja sel osteoklas ( penghancur tulang
). Jadi, secara kodrati oateoporosis lebih banyak menyerang perempuan, yaitu
lebih 2,5 kali lebih sering dibandingkan laki – laki.
Osteoporosis adalah kelainan dimana terjadi penurunan masa tulang total.
Terdapat perubahan pergantian tulang homeostasis normal, kecepatan resoprsi
tulang lebih besar dari kecepatan pembentukan tulang, mengakibatkan penurunan
masa tulang total. Tulang secara progresif menjadi porus, rapuh dan mudah
patah. Tulang menjadi mudah fraktur dengan stress yang tidak akan menimbulkan
pada tulang normal. Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur konversi vertebra
torakalis dan lumbalis, fraktur daerah koulum femoris dan daerah tronkanter,
dan patah tulang coles pada pergelangan tangan. fraktur kompresi ganda fertebra
mengakibatkan deformitas skeletal. Osteoporosis merupakan penyakit skeletal
sistemik yang ditandai dengan massa tulang yang rendah dan kerusakan
mikroarsitektur jaringan tulang, yang mengakibatkan meningkatnya fragilitas
tulang sehingga tulang cenderung untuk mengalami fraktur spontan atau akibat
trauma minimal. (Consensus Development Conference, 1993).
2.2 klasifikasi
1. Osteoporosis Primer
A. Tipe 1 adalah tipe yang timbul pada wanita
pascamenopause
B. Tipe 2 terjadi pada orang lanjut usia baik pria maupun
wanita
2. Osteoporosis Skunder
disebabkan oleh
penyakit yang berhubungan dengan :
C. Kurang gerak
E. Pemakai obat-obatan atau corticosteroid
3. Osteoporosis Idiopatik
Yaitu : Osteoporosis yang
tidak di ketahui penyebabnya dan di temukan pada Usia kanak-kanak
(juvenil), Usia remaja (adolesen), Pria usia
pertengah.
2.3 Epidimiologi
Wanita lebih
sering mengalami osteoporosis dan lebih ekstensif lebih dari pria karena masa
puncak masa tulang juga lebih rendah dan efek kehilangan estrogen selama
menopause. wanita afrika/amerika memiliki masa tulang lebih besar dari pada
wanita kaukasia lebih tidak rentang terhadap osteoporosis. Wanita kaukasia
tidak gemuk dan berkerangka kecil mempunyai resiko tinggi osteoporosis.lebih
setengah dari semua wanita diatas usia 45 tahun memperlihatkan bukti pada sinar
x adanya osteoporosis.
Identifikasi
awal wanita usia belasan dan dewasa muda yang mempunyai resiko tinggi dan
pendidikan untuk meningkatkan asupan kalsium, berpartisipasi dalam latihan
pembebanan berat badan teratur, dan mengubah gaya hidup misalnya mengurang
penggunaan cafein,sigaret dan alcohol akan menurunkan resiko menurukan
osteporsis, faraktur tulang dan kecacatan yang diakibatkan pada usia lanjut.
Prevelensi
osteoporosis pada wanita 75 tahun adalah 90%. Rata – rata wanita usia 75 telah
kehilangan 25% tulang kortikalnya dan 40% trabekularnya.dengan bertambahnya
usia populasi ini isendensi fraktur 1,3jt pertahun,nyeri , dan kecacatan yang
berkaitan dengan nyeri meningkat.
2.4 Etiologi
Etiologi Osteoporosis secara garis besarnya dikelompokan
ke dalam 3 kategori :
1.
Penyebab primer : menopause, usia lanjut,
penyebab lain yang tidak diketahui.
2.
Penyebab sekunder : pemakaian Obat kortikosteroid, gangguan
metabolism, gizi buruk, penyerapan yang buruk, penyakit tulang sumsum, gangguan
fungsi ginjal, penyakit hepar, penyakit paru kronis, cedera urat saraf
belakang, rematik, transplasi organ.
3.
Penyebab secara kausal : Osteoporosi juga dapat dikelompokan
berdasarkan penyebab penyakit atau keadaan dasarnya :
1
Osteoporosis postmenopausal terjadi karena kurangnya
hormon estrogen (hormon utama pada perempuan ), yang membantu pengangkutan
kalsium ke- dalam tulang pada perempuan. Biasanya gejala timbul pada peempuan
yang berusia antara 51 – 75 tahun, tetapi dapat muncul lebih cepat atau lebih
lambat. Tidak semua perempuan memiliki risiko yang sama untuk menderita
osteoporosis postmenopausal, perempuan kulit putih dan daerah timur lebih
rentan menderita penyakit ini daripada kulit hitam.
2
Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari
kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan antara
kecepatan hancurnya tulang ( osteoklas ) dan pembentukan tulang baru (
osteoblas ). Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut
yaitu terjadi pada orang – orang berusia di atas 70 tahun dan 2 kali lebih
sering pada perempuan.
3
Osteoporosis juvenile idiopatik merupakan jenis
osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak – anak
dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormone yang normal, kadar
vitamin yang normal, dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuh yang
jelas.
2.5 Patofisiologi
Penyebab
pasti dari osteoporosis belum di ketahui, kemungkinan pengaruh dari pertumbuhan
aktifitas osteoklas yang berfungsi bentuk tulang. Jika sudah mencapai umur 30
tahun struktur tulang sudah tidak terlindungi karena adanya penyerapan mineral
tulang. Dalam keadaan normal terjadi prose yang terus menerus dan terjadi
secara seimbang yaitu proses resobrsi dan proses pembentukan tulang
(remodeling) . Setiap ada perubahan dalam keseimbangan ini, misalnya roses
resobrsi lebih besar dari proses pembentukan, maka akan terjadi penurunan massa
tulang.
Proses
konsolidasi secara maksimal akan dicapai pada usia 30-35 tahun untuk tulang bagian
korteks dan lebih dini pada bagian trabekula. Pada usia 40-45 tahun, baik
wanita maupun pria akan mengalami penipsan tulang bagian korteks sebesar
0,3-0,5% / tahun dan bagian trabekula pada usia lebi muda. Padapria seusia
wanita menopause mengalami penipisan tulang berkisar 20-30% dan pada wanita
40-50% / tahun.
Penurunan
massa tulang lebih cepat pada bagian-bagian tubu yang metacarpal, kolum
femoris, dan korpus vertebra. Bagian-bagian tubuh yang sering fraktur adalah
vertebra, paha bagian proksimal dan radius bagian distal.
2.6 Manifestasi Klinis
Gejala yang paling sering dan paling mencemaskan pada osteoporosis adalah :
- Nyeri
dengan atau tanpa fraktur yang nyata. Ciri-ciri khas nyeri akibat fraktur
kompressi pada vertebra (paling sering Th 11 dan 12) adalah:
- Nyeri
timbul mendadak
- Sakit
hebat dan terlokalisasi pada vertebra yg terserang
- Nyeri
berkurang pada saat istirahat di t4 tidur
- Nyeri
ringan pada saat bangun tidur dan dan akan bertambah oleh karena
melakukan aktivitas
- Deformitas
vertebra thorakalis Penurunan
tinggi badan
2.7
Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan radiologik
Dilakukan untuk menilai densitas massa tulang sangat
tidak sensitif. Gambaran radiologik yang khas pada osteoporosis adalah
penipisan korteks dan daerah trabekuler yang lebih lusen.Hal ini akan tampak
pada tulang-tulang vertebra yang memberikan gambaran picture-frame
vertebra.
b. Pemeriksaan densitas massa tulang
(Densitometri)
Densitometri tulang merupakan pemeriksaan yang akurat
dan untuk menilai densitas massa tulang, seseorang dikatakan menderita
osteoporosis apabila nilai BMD ( Bone Mineral Density ) berada dibawah -2,5 dan
dikatakan mengalami osteopenia (mulai menurunnya kepadatan tulang) bila nilai
BMD berada antara -2,5 dan -1 dan normal apabila nilai BMD berada diatas nilai
-1.
Beberapa metode yang digunakan untuk menilai densitas massa tulang:
1. Single-Photon Absortiometry (SPA)
Pada SPA digunakan unsur radioisotop I yang mempunyai energi photon rendah
guna menghasilkan berkas radiasi kolimasi tinggi. SPA digunakan hanya untuk
bagian tulang yang mempunyai jaringan lunak yang tidak tebalseperti distal
radius dan kalkaneus.
2. Dual-Photon Absorptiometry (DPA)
Metode ini mempunyai cara yang sama dengan SPA. Perbedaannya berupa sumber
energi yang mempunyai photon dengan 2 tingkat energi yang berbeda guna
mengatasi tulang dan jaringan lunak yang cukup tebal sehingga dapat dipakai
untuk evaluasi bagian-bagian tubuh dan tulang yang mempunyai struktur geometri
komplek seperti pada daerah leher femur dan vetrebrata.
3. Quantitative Computer Tomography
(QCT)
Merupakan densitometri yang paling ideal karena mengukur densitas tulang
secara volimetrik.
c. Sonodensitometri
Sebuah metode yang digunakan untuk menilai densitas perifer dengan
menggunakan gelombang suara dan tanpa adanya resiko radiasi.
d. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI dalam menilai densitas tulang trabekula melalui dua langkah yaitu
pertama T2 sumsum tulang dapat digunakan untuk menilai densitas serta kualitas
jaringan tulang trabekula dan yang kedua untuk menilai arsitektur trabekula.
e. Biopsi tulang dan Histomorfometri
f.
Merupakan pemeriksaan yang sangat
penting untuk memeriksa kelainan metabolisme tulang.
g. Radiologis
Gejala radiologis yang khas adalah densitas atau masa tulang yang menurun
yang dapat dilihat pada vertebra spinalis. Dinding dekat korpus vertebra
biasanya merupakan lokasi yang paling berat. Penipisa korteks dan hilangnya
trabekula transfersal merupakan kelainan yang sering ditemukan. Lemahnya korpus
vertebra menyebabkan penonjolan yang menggelembung dari nukleus pulposus ke
dalam ruang intervertebral dan menyebabkan deformitas bikonkaf.
h. CT-Scan
CT-Scan dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang mempunyai
nilai penting dalam diagnostik dan terapi follow up. Mineral vertebra diatas
110 mg/cm3baisanya tidak menimbulkan fraktur vetebra atau
penonjolan, sedangkan mineral vertebra dibawah 65 mg/cm3 ada
pada hampir semua klien yang mengalami fraktur.
i.
Pemeriksaan Laboratorium
1. Kadar Ca, P, Fosfatase alkali
tidak menunjukkan kelainan yang nyata.
2. Kadar HPT (pada pascamenoupouse
kadar HPT meningkat) dan Ct (terapi ekstrogen merangsang pembentukkan Ct)
3. Kadar 1,25-(OH)2-D3
absorbsi Ca menurun.
4. Eksresi fosfat dan hidroksipolin terganggu sehingga
meningkat kadarnya.
2.8 Penatalaksaan Medis dan Keperawatan
penatalaksanaan
medis
a.
Pengobatan
perempuan yang menderita osteoporosis, harus
mengonsumsi kalsium dan vitamin D dalam jumlah yang mencukupi dan Bifosonat
juga digunakan untuk mengobati osteoporosis. Perempuan pascamenopause yang
menderita osteoporosis juga bisa mendapatkan estrogen ( biasanya bersama dengan
progesterone) atau alendronat, yang dapat memperlambat atau menghentikan
penyakitnya. Sebelum terapi sulih estrogen dilakukan,biasanya dilakukan
pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan payudara dengan mammogram, pemeriksaan
kandungan, serta PAP smear untuk mengetahui apakah ada kanker atau
tidak. Terapi ini tidak di anjurkan pada perempuan yang pernah mengalami kanker
payudara dan kanker kandungan (ndometrium). Pemberian alendronat,
yang berfungsi untuk :
1. Mengurangi
kecepatan penghancuran tulang pada perempuan pasca menopause.
2. Meningkatkan
massa tulang di tulang belakang dan tulang panggul.
3. Mengurangi
angka kejadian patah tulang.
Pemberian Kalsitonin, untuk
diberikan kepada orang yang menderita patah tulang belakang yang disertai
nyeri. Obat ini bisa diberikan melalui suntikan atau melalui semprot
hidung.Laki – laki yang menderita osteoporosis biasanya menapatkan kalsium dan
tambahan vitamin D.Pemberian Nutrilife-deer Velvet merupakan alternative
terkini yang bisa mengatasi osteoporosis. Nutrilife-deer Velvet yang terbuat
dari tanduk Rusa Merah New Zealand, terbukti bermanfaat untuk mencegah
osteoporosis dan telah digunakan selama lebih dari 10.000 tahun oleh China,
Korea, dan Rusia. Obat ini mengandung delapan factor pertumbuhan,
prostaglandin, asam lemak, asam amino, dan komponen dari kartilago, dan
dosisnya 1x1/kapsul 1 hari.Pengobatan patah Tulang pada Osteoporosis.
Patah tulang panggul biasanya di atasi dengan tindakan
pembedahan. Patah tulang pergelangan biasanya digips atau di perbaiki dengan
pembedahan. Jika terjadi penipisan tulang belakang disertai nyeri panggung yang
hebat, dapat di berikan obat pereda nyeri, di pasang supportive back brace, dan
dilakukan terapi fisik dengan mengompres bagian yang nyeri dengan menggunakan
air hangat atau dingin selama 10 – 20 menit.Meningkatkan pembentukan tulang,
obat-obatan yg dapat meningkatkan pembentukan tulan adalah Na-fluorida dan
steroid anabolic.Menghambat resobsi tulang, obat-obatan yang dapat mengahambat
resorbsi tulang adalah kalsium, kalsitonin, estrogen dan difosfonat.
Penatalaksanaan keperawatan
1. Membantu klien mengatasi nyeri.
2. Membantu klien dalam mobilitas.
3. Memberikan informasi tentang
penyakit yang diderita kepada klien.
4. Memfasilitasikan klien dalam beraktivitas agar tidak
terjadi cedera.
2.9
komplikasi
Osteoporosis mengakibatkan
tulang secara progresif menjadi panas, rapuh dan mudah patah. Osteoporosis
sering mengakibatkan fraktur. Bisa terjadi fraktur kompresi vertebra torakalis
dan lumbalis, fraktur daerah kolum femoris dan daerah trokhanter, dan
frakturcolles pada pergelangan tangan
BAB III
ASUHAN
KEPERAWATAN
1.
Pengkajian
Pengkajian
merupakan salah satu tindakan keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan
data atau informasi dari pasien baik yang bersifat objektif dan subjektif agar
mempermudah dalam menentukan masalah keperawatan.
a.
Anamnesa
1)
Identitas
klien
Meliputi nama, umur, jenis
kelamin, alamat, agama, pekerjaan dan sebagainya
2)
Riwayat
penyakit dahulu
Dalam pengkajian Merupakan
riwayat penyakit yang pernah diderita pasien sebelum diagnosis osteoporosis
muncul seperti reumatik, Diabetes Mellitus, hipertiroid, hiperparatiroid
dan lain sebagainya.
3)
Riwayat
penyakit sekarang
Merupakan keluhan-keluhan yang
dirasakan pasien sehingga ia dibawa ke Rumah Sakit, seperti nyeri pada
punggung.
4)
Riwayat
penyakit keluarga
Dalam pengkajian, kita juga perlu
mengkaji riwayat penyakit keluarga pasien, yaitu apakah sebelumnya ada salah
satu keluarga pasien yang memiliki penyakit yang sama.
b.
Pengkakjian
bio-psiko-sosisal dan spiritual
1)
Pola
persepsi dan pemeliharaan kesehatan
-
Kaji
pengetahuan pasien tentang penyakit
-
Kebiasaan
minum alkohol, kafein
-
Riwayat
keluarga dengan osteoporosis
-
Riwayat
anoreksia nervosa, bulimia
-
Penggunaan
steroid jangka panjang
2)
Pola nutrisi
metabolik
-
Inadekuat
intake kalsium
3)
Pola
aktivitas dan latihan
-
Fraktur
-
Badan
bungkuk
-
Jarang
berolah raga
4)
Pola
tidur dan istirahat
-
Tidur
terganggu karena adanya nyeri
5)
Pola
persepsi kognitif
-
Nyeri
pada punggung
6)
Pola
reproduksi seksualitas
-
Menopause
7)
Pola
mekanisme koping terhadap stres
-
Stres,
cemas karena penyakitnya
c. Pemeriksaan Fisik
a. B1 (Breathing). Inspeksi : ditemukan
ketidaksimetrisan rongga dada Dan tulang belakang. Palpasi : Taktil Fremitus
seimbang kanan Dan kiri. Perkusi : cuaca resonan pada seluruh lapang paru.
Auskultasi : pada kasus lansia biasanya didapatkan suara ronki.
b. B2 (Blood). Pengisapan kapiler kurang dari 1
detik, sering terjadi keringat dingin dan pusing. Adanya pulsus perifer memberi
makna terjadi gangguan pembuluh darah atau edema yang berkaitanngan efek obat.
c. B3 (Brain). Kesadaran biasanya kompos mentis.
Pada kasus yang lebih parah, klien dapat mengeluh pusing dan gelisah.
-
Kepala Dan Wajah : terdapat sianosis
-
Mata : skelera biasanya tidak
ikterik, konjungtiva tidak anemis
-
Leher : biasanya JVP dalam batas
normal
d. B4 (Bladder). Produksi urine biasanya dalam batas
normal dan tidak adaa keluhan pada system perkemihan
e. B5 (bowel). Pada kasus osteoporosis, tidak ada
gangguan eliminasi, namun juga penting dikaji frekuensi, konsistensi, warna,
serta bau feses.
f. B6 (Bone). Pada Inspeksi dan palpasi daerah
kolumna vertebralis, klien osteoporosis sering menunjukkan kifosis atau ngibbus
(dowager’s hump) Dan penurunan tinggi badan Dan berat badan. Ada gaya
berjalan, deformitas tulang, leg-length inequality, Dan nyeri spinal.
Lokasi fraktur sering terjadi adalah antara vertebra torakalis 8 Dan lumbalis
3.
d. Pemeriksaaan penunjang
1. CT-Scan
2. BMD (Bone Mineralo Densitometry)
3. Pemeriksaan radioisotop
4. Quantitative Computerized Tomography
5. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
6. Dual-energy X Ray Absorbtiometry
7. Ultra Sono Densitometer (USG)
8. Pemeriksaan Biopsi
e. Analisa Data
No
|
Symtom
|
Etiologi
|
Problem
|
||||||||||||||||
1.
|
DS
:
·
Pasien
mengatakan Nyeri Tulang, belakang yang intensitas serangannya meningkat pada
malam hari.(skala : 1-10)
·
Pasien
mengatakan Sakit hebat dan terlokalisasi pada vertebra yg terserang
·
Pasien
mengatakan Nyeri berkurang pada saat istirahat di tempat tidur
DO :
·
Pasien kelihatan
menahan nyeri
·
Pasien
tidak bisa bergerak bebas
|
Tulang
rapuh dan mudah patah
Fraktur
Gangguan
fungsi ekstremitas atas dan bawah
Pergerakan
fragmen tulang, spasme otot
Nyeri
|
Nyeri berhubungan dengan dampak
skunder dari fraktur vertebra
|
2.
|
DS :
·
Pasien
mengatakan aktivitasnya terganggu
·
Pasien
mengatakan kesulitan dalam bergerak
DO :
·
Pasien
mengalami kesulitan bergerak tempat tidur
·
Pasien
terlihat terbaring lemah di tempat tidur
|
Tulang
rapuh dan mudah patah
Jatuh
Deformitas
skelet
Berkurangnya
kemampuan pergerakan
|
Hambatan mobilitas fisik
berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat perubahan skeletal (kifosis)
atau fraktur baru
|
||||||||||||
3.
|
DS :
·
Pasien
mengatakan lemas Dan kaku
DO :
·
Pasien
tampak lemah
|
Osteoporosis
Tulang
rapuh dan mudah patah
Jatuh/kecelakaan
Resiko
Tinggi Cidera
|
Risiko tinggi injury atau
fraktur berhubungan dengan kecelakaan ringan/jatuh
|
2. Diangnosa
Keperawatan
a.
Nyeri
berhubungan dengan dampak skunder dari fraktur vertebra
b.
Hambatan
mobilitas fisik berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat perubahan skeletal
(kifosis) atau fraktur baru
c.
Risiko
tinggi injury atau fraktur berhubungan dengan kecelakaan ringan/jatuh
d.
Defisiensi
pengetahuan dan informasi berhhubungan dengan salah persepsi dan kurang
informasi
3.
Intervensi
Keperawatan
No
|
Diagnosa Keperawatan
|
Tujuan dan Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
Rasional
|
1.
|
Nyeri
berhubungan dengan dampak skunder dari fraktur vertebra
|
Setelah dilakukan asuhan keperawatan
selama 3x8 jam, diharapkan nyeri klien berkurang dengan kriteria hasil:
·
Klien mampu mengenali onset
nyerinya (Skala 5)
·
Klien melaporkan nyerinya
terkontrol (Skala 5).
·
Klien mampu mendeskripsikan
nyerinya (Skala 5).
·
Klien mampu melaporkan nyeri
(Skala 5)
·
Klien mampu melaporkan lama nyeri
berlangsung (Skala 5)
·
Klien tidak cemas (Skala 5)
|
·
Pantau atau kaji tingkat/skala
nyeri (1-10), intensitas dan sifat nyeri
P :Provocate = Faktor
Pencetus
Q : Quality = Kualitas
R : Region = Lokasi
S: Severe =Keparahan
T: Time = Durasi
·
Atur posisi pasien senyaman
mungkin
·
Ajarkan klien dan keluarganya
manajemen nyeri
·
Kolaborasi dalam pemberian
analgetik
|
·
Untuk mengetahui penyebab nyeri Dan
sifat nyeri apakah bersifat terlokasi atau menyebar dan waktunya
·
Posisi yang baik dapat mengurangi
rasa nyeri
·
Klien dapat mengatasi nyeri secara
mandiri
·
Analgetik dapat mengurangi rasa
nyeri
|
2.
|
Hambatan
mobilitas fisik berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat perubahan
skeletal (kifosis) atau fraktur baru
|
Tujuan
: setelah dilakukan tindakan
keperawatan diharapkan pasien dapat melakukan mobilitas fisik
Kriteria
Hasil : klien
mampu melakukan aktivitas normal secara mandiri.
|
·
Ajarkan klien untuk melakukan
latihan-latihan fisik secara bertahap
·
Ajarkan klien tentang pentingnya
latihan fisik
·
Anjurkan klien untuk menghindari
latihan fleksi, membungkuk dengan tiba-tiba Dan mengangkat beban berat
·
Kolaborasi dalam pemberian obat
|
·
Latihan fisik dapat meningkatkan
kekuatan otot serta melancarkan sirkulasi darah.
·
Klien mengetahui pentingnya
latihan fisik dan mau melakukannya secara rutin
·
Gerakan yang menimbulkan kompresi vertical
berbahaya dan dapat mengakibatkan risiko fraktur vertebra.
·
Membantu dalam proses penyembuhan
|
3.
|
Risiko
tinggi injury atau fraktur berhubungan dengan kecelakaan ringan/jatuh
|
Tujuan
: klien tidak mengalami injury
Kriteria
hasil : Klien tidak
mengalami jatuh atau fraktur akibat jatuh
|
·
Ciptakan
lingkungan yang aman dan bebas bahaya bagi klien
·
Beri
support untuk kebutuhan ambulansi; mengunakan alat bantu jalan atau tongkat.
·
Bantu
klien penuhi ADL (activities daily living) dan cegah klien dari pukulan
yang tidak sengaja atau kebetulan
·
Anjurkan
klien untuk belok dan menunduk/bongkok secara perlahan dan tidak
mengangkat beban yang berat.
·
Ajarkan
klien tentang pentingnya diet (tinggi kalsium, vitamin D) dalam mencegah
osteoporosis lebih lanjut
·
Anjurkan
klien untuk menguragi kafein, rokok dan alcohol
|
·
lingkungan
yang bebas bahaya mengurangi risiko untuk jatuh dan mengakibatkan fraktur
·
Memberi
support ketika berjalan mencegah tidak jatuh pada lansia
·
Benturan
yang keras menyebabkan fraktur tulang, karena tulang sudah rapuh,
porus dan kehilangan kalsium
·
Gerakan
tubuh yang cepat dapat mempermudah fraktur compression vertebral pada
klien dengan osteoporosis
·
Diet
kalsium memelihara tingkat kalsium dalam serum, mencegah kehilangan kalsium
ekstra dalam tulang
·
Kafein
yang berlebihan meningkatkan pengeluaran kalsium berlebihan dalam urine
|
4.
|
Defisiensi pengetahuan dan informasi berhhubungan
dengan salah persepsi dan kurang informasi
|
Tujuan
: Meningkatkan
pengetahuan klien tentang osteoporosis
Kriteria
Hasil : klien
tau tentang penyakitnya, mengerti bagaimana pencegahan osteoporosisi
|
·
Kaji tingkat pengetahuan
klien tentang osteoporosis.
·
Berikan informasi yang tepat
kepada klien tentang osteoporosis, cara pencegahan serta cara pennanganannya
|
·
Mengetahui
sejauh mana klien tahu tentang penyakitnya
·
Meningkatkan
pengetahuan klien tentang osteoporosi sehingga pasien bisa melakukan
pencegahan atau penanganannya secara mandiri
|
4.
Implementasi
Merupakan
tindakan-tindakan dari intervensi keperawatan yang telah ditetapkan dalam
memberikan aasuhan keperawatan kepada klien
5.
Evaluasi
Evaluasi merupakan
proses akhir dari prosedur keperawatan yang meliputi pendokumentasian
tindakan-tindakan yang sudah dilakukan dalam pemberian perawatan terhadap klien
No
|
Diagnosa
|
Evaluasi
|
1.
|
Nyeri berhubungan dengan dampak skunder dari
fraktur vertebra
|
- Klien mampu mengenali onset nyerinya (Skala 5).
- Klien melaporkan nyerinya terkontrol (Skala 5).
- Klien mampu mendeskripsikan nyerinya (Skala 5).
- Klien mampu melaporkan nyeri (Skala 5)
- Klien mampu melaporkan lama nyeri berlangsung (Skala 5)
- Klien melaporkan nyeri (Skala 5)
- Klien tidak cemas
|
2.
|
Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan
disfungsi sekunder akibat perubahan skeletal (kifosis) atau fraktur baru.
|
- Klien mampu menyangga berat badan
- Klien mampu berjalan dengan benar
- Klien mampu berjalan dengan langkah pelan
- Klien mampu berjalan dengan langkah sedang
- Klien mampu mempertahankan keseimbangan tubuh saat duduk
tanpa penyangga punggung ;skala 5
- · Mempertahankan keseimbangan tubuh saat berjalan
|
3.
|
Risiko tinggi injury atau fraktur berhubungan
dengan kecelakaan ringan/jatuh
|
- Keseimbangan tubuh meningkat
- Klien dapat bergerak dengan mudah
- Klien mengetahui cara latihan mengurangi resiko jatuh
|
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Osteoporosis adalah kondisi terjadinya penurunan
densitas/matriks/massa tulang, peningkatan porositas tulang, dan penurunan
proses mineralisasi disertai dengan kerusakan arsitektur mikro jaringan tulang
yang mengakibatkan penurunan kekokohan tulang sehingga tulang menjadi mudah
patah (buku ajar asuhan keperawatan klien gangguan system musculoskeletal)
Penyakit
osteoporosis adalah berkurangnya kepadatan tulang yang progresif, sehingga tulang
menjadi rapuh dan mudah patah. Tulang terdiri dari mineral-mineral seperti
kalsium dan fosfat, sehingga tulang menjadi keras dan padat. Jika tubuh tidak
mampu mengatur kandungan mineral dalam tulang, maka tulang menjadi kurang padat
dan lebih rapuh, sehingga terjadilah osteoporosis.
4.2Saran
Tidak ada saran yang terlalu
mengikat dalam kasus ini, hanya saja Diharapkan
makalah ini bisa memberikan masukan bagi rekan- rekan mahasiswa calon
perawat, sebagai bekal untuk dapat memahami mengenai “ASKEP OSTEOPOROSIS”
menjadi bekal dalam pengaplikasian dan praktik bila menghadapi kasus yang kami
bahas ini.
Untuk meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan maka
penulis memberikan saran-saran sebagai berikut :
1.
Pada pengkajian perawat perlu melakukan pengkajian dengan teliti melihat
kondisi klien serta senantiasa mengembangkan teknik terapeutik dalam
berkomunikasi dengan klien.
2.
Agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan serta sikap profesional dalam menetapkan diagnosa
keperawatan.
DAFTAR
PUSTAKA
Sherwood, Lauralee. Alih bahasa : Brahm U. Pendit.
2001. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Jakarta : EGC.
Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. Alih bahasa :
Brahm U. Pendit. 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit
Volume 1.Edisi 6. Jakarta : EGC.
http://www.slideshare.net/search/slideshow?searchfrom=header&q=patofisiologi+osteoporosis
![]() |
|||||||
![]() |
|||||||
![]() |
|||||||