BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Otitis Media Akut adalah suatu infeksi
pada telinga tengah yang disebabkan karena masuknya bakteri patogenik ke dalam
telinga tengah. Otitis media akut (OMA) dapat terjadi karena beberapa faktor penyebab, seperti
sumbatan tuba eustachius (merupakan penyebab utama dari kejadian otitis media yang
menyebabkan pertahanan
tubuh pada silia mukosa tuba eustachius terganggu), ISPA (infeksi saluran
pernafasan atas), dan bakteri (Streptococcus peumoniae,Haemophylus influenza,Moraxellacatarrhalis,danbakteri piogenik lain, seperti Streptococcus hemolyticus, Staphylococcus aureus, E. coli,Pneumococcus vulgaris).
Di Amerika
Serikat, diperkirakan bahwa sekitar 9,3 juta anak-anak mengalami serangan OMA
pada 2 tahun pertama kehidupannya (Berman, 2006). Menurut Teele (2009) dalam
Commisso et al. (2011), 33% anak akan mengalami sekurang-kurangnya
satu episode OMA pada usia 3 tahun pertama. Terdapat 70% anak usia kurang dari
15 tahun pernah mengalami satu episode OMA (Bluestone, 2006). Faktanya,
ditemukan bahwa otitis media menjadi penyebab 22,7% anak-anak pada usia dibawah
1 tahun dan 40% anak-anak pada usia 4 sampai dengan 5 tahun yang datang
berkunjung ke dokter anak. Selain itu, sekitar sepertiga kunjungan ke dokter
didiagnosa sebagai OMA dan sekitar 75% kunjungan balik ke dokter adalah
untuk follow-up penyakit otitis media tersebut (Teele et
al., 2011). Menurut Casselbrant (2009) dalam Titisari (2005), menunjukkan
bahwa 19% hingga 62% anak-anak mengalami sekurang-kurangnya satu episode OMA
dalam tahun pertama kehidupannya dan sekitar 50-84% anak-anak mengalami paling
sedikit satu episode OMA ketika ia mencapai usia 3 tahun. Di Amerika Serikat,
insidens OMA tertinggi dicapai pada usia 0 sampai dengan 2 tahun, diikuti
dengan anak-anak pada usia 5 tahun.(Smeltzer, 2009).
1.2
Rumusan
Masalah
1.2.1
Apa definisi dari
Otitis Media Akut?
1.2.2
Apa sajakah etiologi dari Otitis
Media Akut?
1.2.3
Bagaimanakah patofisiologi dari Otitis
Media Akut?
1.2.4
Bagaimana manifestasi klinis dari Otitis
Media Akut?
1.2.5
Bagaimana pemeriksaan penunjang dan diagnostik dari Otitis
Media Akut?
1.2.6
Bagaimanakah penatalaksanaan dari Otitis
Media Akut?
1.2.7
Apa sajakah klasifikasi dari Otitis
Media Akut?
1.2.8
Apa saja komplikasi dari Otitis
Media Akut?
1.2.9
Bagaimana asuhan keperawatan dari Otitis
Media Akut?
1.3
Tujuan
Penulisan
1.3.1
Mampu memahami definisi
dari Otitis Media Akut.
1.3.2
Mampu memahami etiologi dari Otitis
Media Akut.
1.3.3
Mampu memahami patofisiologi dari Otitis
Media Akut.
1.3.4
Mampu memahami manifestasi klinis dari Otitis
Media Akut.
1.3.5
Mampu memahami pemeriksaan penunjang dan diagnostik dari Otitis
Media Akut.
1.3.6
Mampu memahami penatalaksanaan dari Otitis
Media Akut.
1.3.7
Mampu memahami klasifikasi dari Otitis
Media Akut.
1.3.8
Mampu memahami komplikasi dari Otitis
Media Akut.
1.3.9
Mampu memahami asuhan keperawatan dari Otitis
Media Akut.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Definisi
Otitis Media Akut
adalah suatu infeksi pada telinga tengah yang disebabkan karena masuknya
bakteri patogenik ke dalam telinga tengah (Smeltzer, 2001). Otitis
media akut adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri pada ruang udara pada
tulang temporal (CMDT, edisi 3 , 2004 ). Otitis media akut adalah peradangan
akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah dan terjadi dalam waktu
kurang dari 3 minggu (Kapita selekta kedokteran, 1999). Otitis media akut
adalah proses infeksi yang ditentukan oleh adanya cairan di telinga atau
gangguan dengar, serta gejala penyerta lainnaya tergantung berat ringannya
penyakit, antara lain demam, iritabilitas, letargi, anoreksia, vomiting, bulging
hingga perforasi membran timpani yang dapat diikuti dengan drainase purulen. Otitis
media akut bisa terjadi pada semua usia, tetapi paling sering ditemukan pada
anak-anak terutama 3 bulan-3 tahun.
2.2
Etiologi
a. Bakteri
Bakteri piogenik
merupakan penyebab OMA yang tersering. Menurut penelitian, 65-75% kasus OMA
dapat ditentukan jenis bakteri piogeniknya melalui isolasi bakteri terhadap
kultur cairan atau efusi telinga tengah. Kasus lain tergolong sebagai
nonpatogenik karena tidak ditemukan mikroorganisme penyebabnya. Tiga jenis
bakteri penyebab otitis media tersering adalah Streptococcus pneumoniae (40%),
diikuti oleh Haemophilus influenzae (25-30%) dan Moraxella catarhalis (10-15%).
Kira-kira 5% kasus dijumpai patogen-patogen yang lain seperti Streptococcus
pyogenes (group A betahemolytic), Staphylococcus aureus, dan organisme gram
negatif. Staphylococcus aureusdan organisme gram negatif banyak ditemukan pada
anak dan neonatus yang menjalani rawat inap di rumah sakit. Haemophilus
influenzae sering dijumpai pada anak balita.Jenis mikroorganisme yang dijumpai pada orang dewasa
juga sama dengan yang dijumpai
pada anak-anak.
b.
Virus
Virus juga
merupakan penyebab OMA. Virus dapat
dijumpai tersendiri atau bersamaan
dengan bakteri patogenik yang lain. Virus yangpaling sering dijumpai pada
anak-anak, yaitu respiratory syncytial
virus (RSV), influenza virus, atau adenovirus (sebanyak 30-40%). Kira-kira
10-15% dijumpai parainfluenza virus, rhinovirus
atau enterovirus. Virus akan
membawa dampak buruk terhadap fungsi
tuba Eustachius, menganggu fungsi
imun lokal, meningkatkan adhesi bakteri, menurunkan efisiensi obat antimikroba
dengan menganggu mekanisme farmakokinetiknya. Dengan menggunakan teknik polymerase
chain reaction (PCR) dan virus specific enzyme-linked immunoabsorbent
assay (ELISA), virus-virus dapat diisolasi dari cairan telinga tengah pada anak
yang menderita OMA pada 75% kasus.
2.3 Manifestasi Klinis
Gejala klinik otitis
media supuratif akut (OMA) tergantung dari stadium penyakit dan umur penderita.
Biasanya gejala awal berupa sakit telinga yang berat dan menetap. Bisa terjadi
gangguan pendengaran yang bersifat sementara. Gejala stadium supurasi berupa
demam tinggi dan suhu tubuh menurun pada stadium perforasi. Gejala klinik
otitis media supuratif akut (OMA) berdasarkan umur penderita, yaitu : Gejalanya
: demam tinggi bisa sampai 39ºC• Bayi dan anak kecil (khas), sulit tidur, tiba-tiba
menjerit saat tidur, mencret, kejang-kejang, dan kadang-kadang memegang telinga
yang sakit. Gejalanya : biasanya rasa nyeri dalam telinga, suhu tubuh
tinggi, dan riwayat batuk pilek.• Anak yang sudah bisa bicara Gejalanya : rasa
nyeri dan• Anak lebih besar dan orang dewasa gangguan pendengaran (rasa penuh dan
pendengaran berkurang), mual, muntah, diare dan demam sampai 40.5ºC.
2.4 Patofisiologi
Patofisiologi OMA dimulai saat kuman masuk ke dalam
tubuh melalui hidung atau mulut sehingga terjadi infeksi saluran pernapasan
atas (ISPA) atau alergi, sehingga terjadi kongesti dan edema pada mukosa
saluran napas atas, termasuk nasofaring dan tuba Eustachius. Tuba Eustachius
menjadi sempit, sehingga terjadi sumbatan tekanan negatif pada telinga tengah.
Bila keadaan demikian berlangsung lama akan menyebabkan refluks dan aspirasi
virus atau bakteri dari nasofaring ke dalam telinga tengah melalui tuba Eustachius.
Mukosa telinga tengah bergantung pada tuba Eustachius untuk mengatur proses
ventilasi yang berkelanjutan dari nasofaring. Jika terjadi gangguan akibat
obstruksi tuba, akan mengaktivasi proses inflamasi kompleks dan terjadi efusi
cairan ke dalam telinga tengah. Ini merupakan faktor pencetus terjadinya OMA
dan otitis media dengan efusi. Bila tuba Eustachius tersumbat, drainase telinga
tengah terganggu, mengalami infeksi serta terjadi akumulasi sekret di telinga
tengah, kemudian terjadi proliferasi mikroba patogen pada sekret. Akibat dari
infeksi virus saluran pernapasan atas, sitokin dan mediator-mediator inflamasi
yang dilepaskan akan menyebabkan disfungsi tuba Eustachius. Virus respiratori
juga dapat meningkatkan kolonisasi dan adhesi bakteri, sehingga menganggu
pertahanan imum pasien terhadap infeksi bakteri. Jika sekret dan pus bertambah
banyak dari proses inflamasi lokal, perndengaran dapat terganggu karena membran
timpani dan tulang-tulang pendengaran tidak dapat bergerak bebas terhadap
getaran. Akumulasi cairan yang terlalu banyak akhirnya dapat merobek membran
timpani akibat tekanannya yang meninggi. Obstruksi tuba Eustachius dapat terjadi secara intraluminal dan
ekstraluminal. Faktor intraluminal adalah seperti akibat ISPA, dimana proses
inflamasi terjadi, lalu timbul edema pada mukosa tuba serta akumulasi sekret di
telinga tengah. Selain itu, sebagian besar pasien dengan otitis media
dihubungkan dengan riwayat fungsi abnormal dari tuba Eustachius, sehingga mekanisme pembukaan tuba
terganggu. Faktor ekstraluminal seperti tumor, dan hipertrofi adenoid.
2.5 PATHWAY














![]() |






udara
yang diterima MK:
Hipertermi



MK:
Gangguan sensori

2.6. STADIUM OMA
OMA dalam perjalanan penyakitnya dibagi menjadi lima
stadium, bergantung pada perubahan pada mukosa telinga tengah, yaitu stadium oklusi
tuba Eustachius, stadium hiperemis atau stadium pre-supurasi, stadium supurasi,
stadium perforasi dan stadium resolusi.
1. Stadium Oklusi Tuba Eustachius
Pada stadium ini, terdapat sumbatan tuba Eustachius
yang ditandai oleh retraksi membran timpani akibat terjadinya tekanan
intratimpani negatif di dalam telinga tengah, dengan adanya absorpsi udara.
Retraksi membran timpani terjadi dan posisi malleusmenjadi lebih horizontal,
refleks cahaya juga berkurang. Edema yang terjadi pada tuba Eustachius juga
menyebabkannya tersumbat. Selain retraksi, membran timpani kadangkadang tetap
normal dan tidak ada kelainan, atau hanya berwarna keruh pucat. Efusi mungkin
telah terjadi tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini sulit dibedakan dengan
tanda dari otitis media serosa yang disebabkan oleh virus dan alergi. Tidak
terjadi demam pada stadium ini.
2. Stadium Hiperemis atau Stadium Pre-supurasi
Pada stadium ini, terjadi pelebaran pembuluh darah
di membran timpani, yang ditandai oleh membran timpani mengalami hiperemis,
edema mukosa dan adanya sekret eksudat serosa yang sulit terlihat. Hiperemis
disebabkan oleh oklusi tuba yang
berpanjangan sehingga terjadinya invasi oleh mikroorganisme piogenik. Proses
inflamasi berlaku di telinga tengah dan membran timpani menjadi kongesti.
Stadium ini merupakan tanda infeksi bakteri yang menyebabkan pasien mengeluhkan
otalgia, telinga rasa penuh dan demam.
Pendengaran mungkin masih normal atau terjadi gangguan ringan,
tergantung dari cepatnya proses hiperemis. Hal ini terjadi karena terdapat
tekanan udara yang meningkat di kavum timpani. Gejala-gejala berkisar antara
dua belas jam sampai dengan satu hari.
3. Stadium Supurasi
Stadium supurasi ditandai oleh terbentuknya sekret
eksudat purulen atau bernanah di telinga tengah dan juga di sel-sel mastoid.
Selain itu edema pada mukosa telinga tengah menjadi makin hebat dan sel epitel
superfisial terhancur. Terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani
menyebabkan membran timpani menonjol atau bulgingke arah liang telinga luar. Pada
keadaan ini, pasien akan tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat serta
rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Pasien selalu gelisah dan tidak dapat
tidur nyenyak. Dapat disertai dengan gangguan pendengaran konduktif. Pada bayi
demam tinggi dapat disertai muntah dan kejang. Stadium supurasi yang berlanjut
dan tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan iskemia membran timpani,
akibat timbulnya nekrosis mukosa dan submukosa membran timpani. Terjadi
penumpukan nanah yang terus berlangsung di kavum timpani dan akibat
tromboflebitis vena-vena kecil, sehingga tekanan kapiler membran timpani
meningkat, lalu menimbulkan nekrosis. Daerah nekrosis terasa lebih lembek dan
berwarna kekuningan atau yellow spot. Keadaan stadium supurasi dapat ditangani
dengan melakukan miringotomi. Bedah kecil ini kita lakukan dengan menjalankan
insisi pada membran timpani sehingga nanah akan keluar dari telinga tengah
menuju liang telinga luar. Luka insisi pada membran timpani akan menutup
kembali, sedangkan apabila terjadi ruptur, lubang tempat perforasi lebih sulit
menutup kembali. Membran timpani mungkin tidak menutup kembali jikanya tidak
utuh lagi.
4. Stadium Perforasi
Stadium perforasi ditandai oleh ruptur membran
timpani sehingga sekret berupa nanah yang jumlahnya banyak akan mengalir dari
telinga tengah ke liang telinga luar. Kadang-kadang pengeluaran sekret bersifat
pulsasi (berdenyut). Stadium ini sering disebabkan oleh terlambatnya pemberian
antibiotik dan tingginya virulensi kuman. Setelah nanah keluar, anak berubah menjadi
lebih tenang, suhu tubuh menurun dan dapat tertidur nyenyak.Jika mebran timpani
tetap perforasi dan pengeluaran sekret atau nanah tetap berlangsung melebihi
tiga minggu, maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut. Jika
kedua keadaan tersebut tetap berlangsung selama lebih satu setengah sampai
dengan dua bulan, maka keadaan itu disebut otitis media supuratif kronik
5. Stadium Resolusi
Keadaan ini merupakan stadium akhir OMA yang diawali
dengan berkurangnya dan berhentinya otore. Stadium resolusi ditandai oleh
membran timpani berangsur normal hingga perforasi membran timpani menutup
kembali dan sekret purulen akan berkurang dan akhirnya kering. Pendengaran
kembali normal. Stadium ini berlangsung walaupun tanpa pengobatan, jika membran timpani masih utuh, daya tahan tubuh
baik, dan virulensi kuman rendah. Apabila stadium resolusi gagal terjadi, maka
akan berlanjut menjadi otitis media supuratif kronik. Kegagalan stadium ini
berupa perforasi membran timpani menetap, dengan sekret yang keluar secara
terus-menerus atau hilang timbul.Otitis media supuratif akut dapat menimbulkan
gejala sisa berupa otitis media serosa. Otitis media serosa terjadi jika sekret
menetap di kavum timpani tanpa mengalami perforasi membran timpani.
2.7
Pemeriksaan
Penunjang dan Diagnostik
1. Otoscope untuk melakukan auskultasi pada bagian telinga luar
2. Timpanogram untuk mengukur keseuaian dan kekakuan membrane
timpani
3. Kultur dan uji sensitifitas ; dilakukan bila dilakukan
timpanosentesis (Aspirasi jarum dari telinga tengah melalui membrane timpani).
4. Otoskopi pneumatik (pemeriksaan telinga dengan
otoskop untuk melihat gendang telinga yang dilengkapi dengan udara kecil).
Untuk menilai respon gendang telinga terhadap perubahan tekanan udara.
2.8
Penatalaksanaan
Terapi OMA tergantung pada stadiumnya. Pada stadium
oklusi, tujuan terapi dikhususkan untuk membuka kembali tuba eustachius.
Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,5% dalam larutan fisiologik untuk
anak <12 thn dan HCl efedrin 1% dalam larutan fisiologik untuk anak yang
berumur >12 thn atau dewasa.. selain itu, sumber infeksi juga harus diobati
dengan memberikan antibiotik.
Pada stadium presupurasi, diberikan antibiotik, obat
tetes hidung, dan analgesik. Bila membran timpani sudah hiperemi difus,
sebaiknya dilakukan miringotomi. Antibiotik yang diberikan ialah penisilin atau
eritromisin. Jika terdapat resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam
klavunalat atau sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan penisilin IM agar
konsentrasinya adekuat di dalam darah. Antibiotik diberikan minimal selama 7
hari. Pada anak diberikan ampisilin 4x50-100 mg/KgBB, amoksisilin 4x40
mg/KgBB/hari, atau eritromisin 4x40 mg/kgBB/hari.
Pengobatan stadium supurasi selain antibiotik,
pasien harus dirujuk untuk dilakukan miringotomi bila membran timpani masih
utuh. Selain itu, analgesik juga perlu diberikan agar nyeri dapat berkurang.
Pada stadium perforasi, diberikan obat cuci telinga
H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu.
Stadium resolusi biasanya akan tampak sekret
mengalir keluar. Pada keadaan ini dapat dilanjutkan antibiotik sampai 3 minggu,
namun bila masih keluar sekret diduga telah terjadi mastoiditis.
2.9
Klasifikasi
Ada 5 stadium
OMA berdasarkan pada perubahan mukosa telinga tengah, yaitu:
1.
Stadium Oklusi Stadium ini ditandai dengan gambaran retraksi membran timpani
akibat tekanan negatif telinga tengah. Membran timpani kadang tampak normal
atau berwarna suram.
2.
Stadium Hiperemis Pada stadium ini tampak pembuluh darah yang melebar di sebagian
atau seluruh membran timpani, membran timpani tampak hiperemis disertai edem.
3.
Stadium Supurasi Stadium ini ditandai edem yang hebat telinga tengah disertai
hancurnya sel epitel superfisial serta terbentuknya eksudat purulen di kavum
timpani sehingga membran timpani tampak menonjol (bulging) ke arah liang
telinga luar.
4.
Stadium Perforasi Pada stadium ini terjadi ruptur membran timpani sehingga
nanah keluar dari telinga tengah ke liang telinga.
5.
Stadium Resolusi Pada stadium ini membran timpani berangsur normal, perforasi
membran timpani kembali menutup dan sekret purulen tidak ada lagi. Bila daya
tahan tubuh baik atau virulensi kuman rendah maka resolusi dapat terjadi
walaupun tanpa pengobatan
2.10
Komplikasi
Meskipun kondisi ini jarang menyebabkan komplikasi, tapi jika
memang terjadi, komplikasi bisa sangat berbahaya dan harus mendapatkan
pengobatan dengan antibiotik secepatnya di rumah sakit. Berikut ini beberapa
komplikasi yang mungkin terjadi akibat otitis media.
§
Labirinitis. Penyebaran infeksi ke
telinga bagian dalam.
§
Mastoiditis. Penyebaran infeksi ke
tulang di belakang telinga.
§
Meningitis. Penyebaran infeksi
hingga selaput pelindung otak dan saraf tulang belakang atau meninges.
Tanda-tanda terjadinya komplikasi:
§ sakit kepala
§ tuli yang terjadi secara mendadak
§ vertigo (perasaan berputar)
§ demam dan menggigil.
2.11
Asuhan
Keperawatan Teoritis
I.
PENGKAJIAN
Riwayat
Klien
a. Identitas Pasien
b. Riwayat adanya kelainan nyeri
c. Riwayat infeksi saluran nafas atas
yang berulang
d. Riwayat alergi.
e. OMA berkurang.
Riwayat
Kesehatan
Adakah baru-baru ini infeksi pernafasan atas ataukah sebelumnya klien mengalami ISPA, ada nyeri daerah telinga, perasaan penuh atau tertekan di dalam telinga, perubahan pendengaran.
Adakah baru-baru ini infeksi pernafasan atas ataukah sebelumnya klien mengalami ISPA, ada nyeri daerah telinga, perasaan penuh atau tertekan di dalam telinga, perubahan pendengaran.
Pengkajian
Sistem
1) Pengkajian Fisik
a. Nyeri telinga.
b. Perasaan penuh dan penurunan
pendengaran.
c. Suhu meningkat (suhu
bisa mencapai 40⁰C)
d. Malaise.
e. Nausea Vomiting.
f. Vertigo.
g. Ortore.
h. Pemeriksaan dengan otoskop tentang
stadium. Dengan otoskop tuba eustacius bengkak,
merah, suram.
2) Pengkajian Psikososial
a. Nyeri otore berpengaruh pada
interaksi.
b. Aktifitas terbatas.
c. Takut menghadapi tindakan
pembedahan.
3) Pemeriksaan Diagnostik
a. Tes Audiometri : AC menurun
b. X ray : terhadap kondisi patologi
Misal
: Cholesteatoma, kekaburan mastoid.
4) Pemeriksaan pendengaran
a.
Tes suara bisikan
b.
Tes garputala
II.
DIAGNOSA
1. Gangguan
rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan proses peradangan pada telinga tengah
2. Perubahan
persepsi/sensori berhubungan dengan obstruksi, infeksi di telinga tengah atau
kerusakan di saraf pendengaran.
III.
INTERVENSI
1. Gangguan
rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan proses peradangan pada telinga tengah
Tujuan : Penurunan rasa nyeri
Intervensi :
a. Alihkan
perhatian pasien dengan menggunakan teknik-teknik relaksasi : distraksi,
imajinasi terbimbing, touching, dll.
b. Kaji
tingkat intensitas klien dan mekanisme koping klien.
c. Kolaborasi
pemberian analgetik sesuai indikasi.
d. Beri informasi
kepada klien dan keluarga tentang penyebab nyeri yang dirasa.
2. Perubahan
persepsi/sensori berhubungan dengan obstruksi, infeksi di telinga tengah atau
kerusakan di saraf pendengaran.
Tujuan : Memperbaiki komunikasi
Intervensi :
a. Memandang
klien ketika berbicara
b. Mengurangi
kegaduhan pada lingkungan klien.
c. Ajarkan klien
untuk menggunakan dan merawat alat pendengaran secara tepat.
d. Instruksikan klien
untuk menggunakan teknik-teknik yang aman dalam perawatan telinga (seperti: saat membersihkan
dengan menggunakan cutton bud secara
hati-hati, sementara waktu hindari berenang ataupun kejadian ISPA) sehingga dapat mencegah terjadinya ketulian lebih jauh.
e. Observasi
tanda-tanda awal kehilangan pendengaran yang lanjut.
2.12
Asuhan
Keperawatan pada Klien
1. Pengkajian
a. Identitas
Nama :
Tn. S
Jenis Kelamin : Laki - laki
Usia: :
25 tahun
b. Keluhan
utama : 3 hari badan terasa hangat, nyeri pada telinga, pendengaran kurang.
c. Data
Penunjang
Hasil Pemeriksaan fisik :
-
TD : 130/90 mmHg
-
Nadi :112 x/m
-
Suhu : 38⁰C
-
Udem pada mukosa
telinga
-
Membran timpani menjadi
bulging
-
Membran timpani
terlihat lembek dan berwarna kuning
d. Pemeriksaan
Penunjang
-
Otoskop
-
Timpanogram
-
Kultur
-
Uji Sensitifitas
e. Penatalaksanaan
-
Pemberian antibiotik
dan H₂O₂
f. Analisa
Masalah
Data
|
Etiologi
|
Masalah
Keperawatan
|
Ds:- klien mengatakan bahwa pendengarannya
berkurang
Do : -
Membran timpani menjadi bulging kearah luar
-Membran timpani terlihat lembek dan berwarna
kuning
|
penurunan pendengaran
|
Gangguan
persepsi/sensori (pendengaran )
|
Ds :
-Clien mengeluh nyeri
Do:
- Udem pada mukosa
telinga
- Membran timpani
menjadi bulging ke arah luar
|
Respon Inflamasi
|
Gangguan rasa nyaman
: Nyeri
|
Ds :
-Klien mengeluh badan
terasa hangat selama 3 hari
Do :
-Suhu : 30⁰C
-Nadi 112 x/m
(Takikardi)
|
Respon Inflamasi
|
Hipertermia
|
2. Diagnosa
Keperawatan
1. Gangguan
persepsi/sensori (pendengaran ) b.d penurunan pendengaran
2. Nyeri
b.d udem pada mukosatelinga dan membran timpani menjadi bulging
3. Hipertermi
b.d Proses Inflamasi
3. Intervensi
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Otitis Media Akut (OMA)
merupakan suatu infeksi pada telinga tengah yang disebabkan karena masuknya
bakteri patogenik ke dalam telinga tengah. Penyebab utama dari OMA adalah tersumbatnya
saluran/tuba eustachius yang bisa disebabkan oleh proses peradangan akibat infeksi
bakteri yang masuk ke dalam tuba eustachius tersebut, kejadian ISPA yang berulang
pada anak juga dapat menjadi faktor penyebab terjadinya OMA pada anak.
Stadium OMA dapat
terbagi menjadi lima stadium, antara lain Stadium Hiperemi, Oklusi, Supurasi,
Koalesen, dan Stadium Resolusi. Dimana manifestasi dari OMA juga tergantung
pada letak stadium yang dialami oleh klien. Terapi dari OMA juga berdasar pada
stadium yang dialami klien. Dari perjalanan penyakit OMA, dapat muncul beberapa
masalah keperawatan yang dialami oleh klien, antara lain gangguan rasa nyaman
(nyeri), perubahan sensori persepsi pendengaran, dan kecemasan.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner
& suddarth.2002. keperawatan medical bedah. Vol.3. Ed
8 : Jakarta : EGC
Doengoes,
Marilyn E.2000. Rencana Asuhan Keperawatan : pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian perawatan pasien.ed 3. Jakarta :
EGC
Ludman,
Harold, MB, FRCS, Petunjuk Penting pada Penyakit THT, Jakarta, Hipokrates, 1996
Mansjoer,Arief,dkk.1999.Kapita
Selekta Kedokteran,Edisi 3: Jakarta, Mediaacs culapiu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar