BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagaimana diketahui salah satu mineral utama penyusun tulang adalah
kalsium. Kurangnya konsumsi kalsium akan mengakibatkan berkurangnya kalsium
yang terdapat pada tulang, sehingga lama kelamaan akan terjadi perubahan pada
mikroarstektur tulang dan tulang menjadi lunak. Akibatnya tulang menjadi
kehilangan kepadatan dan kekuatannya, sehingga mudah retak/patah.
Osteomalasia ialah perubahan patologik berupa hilangnya mineralisasi tulang
yang disebabkan berkurangnya kadar kalsium fosfat sampai tingkat di bawah kadar
yang diperlukan untuk mineralisasi matriks tulang normal, hasil akhirnya ialah
rasio antara mineral tulang dengan matriks tulang berkurang.
Pada orang dewasa kondisi ini
adalah kronis dan deformitas skeletal tidak separah yang terjadi pada anak-anak
karena pertumbuhan skeletal telah terhenti. Pada pasien ini, sejumlah osteoid atau remodelling tulang baru tidak
mengalami klasifikasi.
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan
Umum
Untuk mengetahui pembahasan lengkap
tentang penyakit
pada system
musculoskeletal Osteomalacia.
Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui pengertian dari Osteomalacia
2.
Untuk
mengetahui etiologi atau penyebab dari Osteomalacia
3.
Untuk
mengetahui patofisiologi dari Osteomalacia
4.
Untuk
mengetahui manifestasi klinis dari Osteomalacia
5.
Untuk
mengetahui pemeriksaan penunjang dari Osteomalacia
6.
Untuk
mengetahui penatalaksanaan dari Osteomalacia
7.
Untuk
mengetahui komplikasi dari Osteomalacia
8.
Untuk
mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan dari Osteomalacia
1.3
Manfaat
Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini disesuaikan dengan tujuan
yang telah dibuat diantaranya :
1. Memberitahukan kepada pembaca apa
dan bagaimana penyakit
Osteomalacia
itu.
2. Memberitahukan kepada pembaca
bagaimana tindakan keperawatan untuk pasien dengan Osteomalacia.
3. Sebagai bahan masukan untuk penulisan
laporan lebih lanjut mengenai Osteomalacia.
BAB
II
TINJAUAN
TEORITIS
2.1
Definisi Osteomalacia
Osteomalasia adalah penyakit
metabolisme tulang yang dikarakteristik oleh kurangnya mineral dari tulang
(menyerupai penyakit yang menyerang anak-anak yang disebut rickets) pada orang
dewasa, osteomalasia berlangsung kronis dan terjadi deformitas skeletal,
terjadi tidak separah dengan yang menyerang anak-anak karena pada orang dewasa
pertumbuhan tulang sudah lengkap (komplit). (Smeltzer. 2001: 2339)
Osteomalasia
adalah manifestasi defisiensi vitamin D. Perubahan mendasar pada penyakti ini
adalah gangguan mineralisasi tulang, disertai meningkatnya osteoid yang tidak
mengalami mineralisasi. (Robins,
2007)
Osteomalasia adalah penyakit pada
orang dewasa yang ditandai oleh gagalnya pendepositan kalsium kedalam tulang
yang baru tumbuh. Istilah lain dari osteomalasia adalah ”soft bone” atau
tulang lunak. Penyakit ini mirip dengan rakitis, hanya saja pada penyakit ini
tidak ditemukan kelainan pada lempeng epifisis (tempat pertumbuhan tulang pada
anak) karena pada orang dewasa sudah tidak lagi dijumpai lempeng epifisis.
2.2 Etiologi Osteomalacia
Umumnya
penyebab utama adalah tidak cukupnya mineralisasi tulang terutama kekurangan
vitamin D. Ada berbagai kasus osteomalacia yang terjadi akibat gangguan umum
metabolisme mineral, antara lain :
1.
Adanya malnutrisi
Kekurangan vitamin D yang
berhubungan dengan asupan kalsium yang jelek, terutama akibat kemiskinan,
makanan kurang matang dan kurangnya
pengetahuan mengenai nutrisi juga merupakan salah satu faktor. Paling
sering terjadi dimana vitamin D tidak ditambahkan dalam makanan juga kekurangan
dalam diet dan jauh dari sinar matahari.
2.
Faktor resiko berkaitan dengan
penyakit patologis.
Penyakit-penyakit patologik yang
dapat memicu terjadinya osteomalacia meliputi gagal ginjal kronik sehingga
proses ekskresi/pembuangan kalsium akan meningkat. Dengan begitu proses
mineralisasi akan terhambat. Penyakit hati karena organ hatinya tak mampu
memroses vitamin D sehingga fase mineralisasi tidak terjadi. terapi
antikonvulsan berkepanjangan (fenitoin fenobarbital), dan gastrektomi.
Osteomalacia dalam hal ini terjadi sebagai akibat kegagalan absorpsi kalsium
ataupun kehilangan kalsium yang berlebihan dari tubuh.
2.3 Patofisiologi Osteomalacia
Ada berbagai macam penyebab dari
Osteomalasia yang umumnya menyebabkan gangguan metabolisme mineral.
Faktor yang berbahaya untuk osteomalasia adalah kesalahan diet,
malabsobrsi, gastrectomi, GGK, terapi anticonvilsan jangka lama (phenyton,
phenorbar bital) dan insufisiensi vitamin D (diet sinar matahari). Tipe malnutrisi (defisiensi vitamin
D sering di golongkan dalam hal kekurangan kalsium) terutama terjadi gangguan
fungsi tetapi faktor dan kurangnya pengetahuan tentang nutrisi juga dapat
menjadi faktor pencetus hal itu terjadi dengan frekuensi tersering dimana
kandungan vitamin D dalam makanan kurang dan adanya kesalahan diet serta
kekurangan sinar matahari.
Defisiensi
vitamin D menyebabkan penurunan kalsium serum, yang merangsang pelepasan hormon
paratiroid. Peningkatan hormon paratiroid meningkatkan penguraian tulang dan
ekskresi fosfat oleh ginjal. Tanpa mineralisasi tulang yang adekuat, maka
tulang menjadi tipis. Terjadi penimbunan osteoid yang tidak terkristalisasi
dalam jumlah abnormal yang membungkus saluran-saluran tulang bagian dalam, hal
ini menimbulkan deformitas tulang. Diperkirakan defek primernya adalah
kekurangan vitamin D aktif yang memacu absorbsi kalsium dari traktus
gastrointestinal dan memfasilitasi mineralisasi tulang. Pasokan kalsium dan
fosfat dalam cairan ekstrasel rendah. Tanpa vitamin D yang mencukupi, kalsium
dan fosfat tidak dapat dimasukkan ke tempat kalsifikasi tulang, sehingga
mengakibatkan kegagalan mineralisasi, terjadi perlunakan dan perlemahan
kerangka tubuh.
Pathway
![]() |
|||
![]() |








![]() |
![]() |
||


2.4 Manifestasi Klinis Osteomalacia
Secara umum terdapat sepuluh tanda
klinis utama dari osteomalsia yaitu sebagai berikut:
1.
Lemahnya tulang.
2.
Nyeri tulang.
3.
Nyeri tulang pelvis.
4.
Nyeri tulang panjang.
5.
Nyeri tulang belakang.
6.
Kelemahan otot.
7.
Hipokalsemia.
8.
Tulang vertebra mengalami tekanan.
9.
Pendataran pelvis.
10. Fraktur,
baik secara jumlah dan mudahnya patah tulang
Umumnya gejala yang memperberat dari
osteomalasia adalah :
1.
Nyeri tulang dan kelemahan. Sebagai
akibat dari defisiensi kalsium, biasanya terdapat kelemahan otot, pasien
kemudian nampak terhuyung-huyung atau cara berjalan loyo/lemah. Nyeri tulang
yang dirasakan menyebar, terutama pada daerah pinggang dan paha.
2.
Kemajuan penyakit, kaki terjadi bengkok
(karena tinggi badan dan kerapuhan tulang), vertebra menjadi tertekan,
pemendekan batang tubuh pasien dan kelainan bentuk thoraks (kifosis).
3.
Penurunan berat badan.
4.
Nyeri tulang dan nyeri
tekan tulang.
5.
Kelemahan otot.
6.
Cara berjalan seperti
bebek atau pincang.
7.
Pada penyakit yang
lebih lanjut, tungkai melengkung (karena berat tubuh dan tarikan otot).
8.
Vertebra yang melunak
mengalami kompresi, sehingga mengalami pemendekan tinggi badan dan merusak
bentuk toraks (kifosis).
9.
Sakrum terdorong ke
bawah dan depan, pelvis tertekan ke lateral.
10. Kelemahan
dan ketidakseimbangan meningkatkan risiko jatuh dan fraktur.
2.5 Pemeriksaan Penunjang Osteomalacia
1.
Pemeriksaan Diagnostik
Foto Rontgen, pada sinar-x jelas
terlihat demineralisasi tulang secara umum. Pemeriksaan vertebra memperlihatkan
adanya patah tulang kompresi tanpa batas vertebra yang jelas. Pada radiogram,
osteomalasia tampak sebagai pengurangan densitas tulang, terutama pada tangan,
tengkorak, tulang iga dan tulang belakang.
2.
Pemeriksaan Laboratorium
Hasil lab memperlihatkan kadar
kalsium serum dan fosfor yang rendah dan peningkatan moderat kadar alkali
fosfatase. Ekskresi kreatinin dan kalsium urine rendah serta biopsi tulang yang
menunjukkan peningkatan jumlah osteoid.
2.6 Penatalaksanaan Osteomalacia
1.
Penatalaksanaan Medik
a.
Jika penyebabnya kekurangan vitamin D, maka dapat
disuntikkan vitamin D 200.000 IU per minggu selama 4-6 minggu, yang kemudian
dilanjutkan dengan 1.600 IU setiap hari atau 200.000 IU setiap 4-6 bulan.
b.
Jika terjadi kekurangan fosfat (hipofosfatemia), maka dapat
diobati dengan mengonsumsi 1,25-dihydroxy vitamin D.
2.
Penatalaksanan non medik
a.
Jika kekurangan kalsium maka yang harus dilakukan adalah
memperbanyak konsumsi unsur kalsium. Agar sel osteoblas (pembentuk tulang) bisa
bekerja lebih keras lagi. Selain mengkonsumsi sayur-sayuran, buah, tahu, tempe,
ikan teri, daging, yogurt. Konsumsi suplemen kalsium sangatlah
disarankan.
b.
Jika kekurangan vitamin D, sangat
dianjurkan untuk memperbanyak konsumsi makanan seperti ikan salmon, kuning
telur, minyak ikan, dan susu. Untuk membantu pembentukan vitamin D dalam tubuh
cobalah sering berjemur di bawah sinar matahari pagi antara pukul 7 - 9 pagi
dan sore pada pukul 16 - 17.
2.7 Komplikasi Osteomalacia
Pada
anak-anak jika penyakit ini tidak segera diobati maka pertumbuhannya akan
terhalang, anak jadi lambat untuk duduk, merangkak dan berjalan. Berat tubuhnya
mungkin akan membengkokan lutut, tulang serta persendian lainya sehingga
menyebabkan kaki O (genu varum), dada busung (pigeon chest) dan lutut bengkok
ke dalam (genu valgum). Pada orang dewasa kelemahan tulang menimbulkan resiko
fraktur. Os vertebrata yang melunak akan tertekan menjadi pendek sehingga orang
itu akan berkurang tingginya atau cebol. Trunkus yang memendek, sehingga
mengubah bentuk toraks disebut kifosis dimana terlihat bungkuk dan skoliosis.
BAB
III
KONSEP
DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
3.1
Pengkajian
a.
Data demografi : Data ini meliputi nama,
usia, jenis kelamin, tempat tinggal, orang yang dekat dengan klien.
b.
Riwayat perkembangan : Data ini untuk
mengetahui tingkat perkembangan pada neonatus, bayi, prasekolah, remaja, dewasa
dan tua.
c.
Riwayat
Kesehatan
Riwayat kesehatan masa lalu
: Data ini meliputi tentang
adanya efek langsung atau tidak langsung terhadap muskuloskeletal, misalnya
riwayat trauma atau kerusakan tulang rawan, riwayat arthritis dan osteomielitis.
Riwayat kesehatan sekarang
: sejak kapan timbul keluhan, apakah
ada riwayat trauma. Hal-hal yang menimbulkan gejala. Timbulnya gejala mendadak
atau perlahan. Timbulnya untuk pertama kalinya atau berulang. Perlu ditanyakan
pula tentang ada-tidaknya gangguan pada sistem lainnya. Keluhan utama pasien dengan gangguan muskuloskeletal meliputi
:
1.
Nyeri : identifikasi lokasi nyeri. Nyeri
biasanya berkaitan dengan pembuluh darah, sendi, fasia atau periosteum.
Tentukan kualitas nyeri apakah sakit yang menusuk atau berdenyut. Nyeri
berdenyut biasanya berkaitan dengan tulang dan sakit berkaitan dengan otot,
sedangkan nyeri yang menusuk berkaitan dengan fraktur atau infeksi tulang.
Identifikasi apakah nyeri timbul setelah diberi aktivitas atau gerakan. Nyeri
saat bergerak merupakan satu tanda masalah persendian. Degenerasi panggul
menimbulkan nyeri selama badan bertumpu pada sendi tersebut. Degenerasi pada
lutut menimbulkan nyeri selama dan setelah berjalan. Nyeri pada osteoartritis
makin meningkat pada suhu dingin. Tanyakan kapan nyeri makin meningkat, apakah
pagi atau malam hari. Inflamasi pada bursa atau tendon makin meningkat pada malam
hari. Tanyakan apakah nyeri hilang saat istirahat. Apakah nyerinya dapat
diatasi dengan obat tertentu.
2.
Kekuatan sendi : tanyakan sendi mana
yang mengalami kekakuan, lamanya kekakuan tersebut, dan apakah selalu terjadi
kekakuan. Beberapa kondisi seperti spondilitis ankilosis terjadi remisi
kekakuan beberapa kali sehari. Pada penyakit degenarasi sendi sering terjadi
kekakuan yang meningkat pada pagi hari setelah bangun tidur (inaktivitas).
Bagaimana dengan perubahan suhu dan aktivitas. Suhu dingin dan kurang aktivitas
biasanya meningkatkan kekakuan sendi. Suhu panas biasanya menurunkan spasme
otot.
3.
Bengkak : tanyakan berapa lama terjadi
pembengkakan, apakah juga disertai dengan nyeri, karena bengkak dan nyeri
sering menyertai cedera pada otot. Penyakit degenerasi sendi sering kali tidak
timbul bengkak pada awal serangan, tetapi muncul setelah beberapa minggu
terjadi nyeri. Dengan istirahat dan meninggikan bagian tubuh, ada yang dipasang
gips. Identifikasi apakah ada panas atau kemerahan karena tanda tersebut
menunjukkan adanya inflamasi, infeksi atau cedera.
4.
Deformitas dan imobilitas : tanyakan
kapan terjadinya, apakah tiba-tiba atau bertahap, apakah menimbulkan
keterbatasan gerak. Apakah semakin memburuk dengan aktivits, apakah dengan
posisi tetentu makin memburuk. Apakah klien menggunakan alat bantu (kruk,
tongkat, dll)
5.
Perubahan sensori : tanyakan apakah ada
penurunan rasa pada bagian tubuh tertentu. Apakah menurunnya rasa atau sensasi
tersebut berkaitan dengan nyeri. Penekanan pada syaraf dan pembuluh darah
akibat bengkak, tumor atau fraktur dapat menyebabkan menurunnya sensasi.
Riwayat penyakit keturunan
: Riwayat penyakit keluarga perlu diketahui untuk menentukan hubungan genetik
yang perlu diidentifikasi misalnya (penyakit diabetes melitus yang merupakan
predisposisi penyakit sendi degeneratif, TBC, artritis, riketsia,
osteomielitis, dll).
d.
Pemeriksaan
Fisik
a. Pengkajian Skeletal Tubuh
1)
Adanya
deformitas dan ketidaksejajaran yang dapat disebabkan oleh penyakit sendi
2)
Pertumbuhan
tulang abnormal. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya tumor tulang.
3)
Pemendekan
ekstrimitas, amputasi dan bagian tubuh yang tidak sejajar secara anatomis
4)
Angulasi
abnormal pada tulang panjang, gerakan pada titik bukan sendi, teraba krepitus
pada titik gerakan abnormal, menunjukkan adanya patah tulang.
b. Pengkajian Tulang Belakang
Deformitas tulang
belakang yang sering terjadi perlu diperhatikan yaitu :
1)
Skoliosis
(deviasi kurvantura lateral tulang belakang) Bahu tidak sama tinggi, garis
pinggang yang tidak simetris, skapula yang menonjol
2)
Skoliosis
tidak diketahui penyebabnya (idiopatik), kelainan kongenital, atau akibat
kerusakan otot para-spinal, seperti poliomielitis.
3)
Kifosis
(kenaikan kurvantura tulang belakang bagian dada). Sering terjadi pada lansia
dengan osteoporosis atau penyakti neuromuskular.
4)
Lordosis
(membebek, kurvantura tulang bagian pinggang yang berlebihan. Lordosis bisa
ditemukan pada wanita hamil
Pada saat inspeksi
tulang belakang sebaiknya baju pasien dilepas untuk melihat seluruh punggung,
bokong dan tungkai. Pemeriksaan kurvantura tulang belakang dan kesimetrisan
batang tubuh dilakukan dari pandangan anterior, posterior dan lateral. Dengan
berdiri di belakang pasien, perhatikan setiap perbedaan tinggi bahu dan krista
iliaka. Lipatan bokong normalnya simetris. Kesimetrisan bahu, pinggul dan
kelurusan tulang belakang diperiksa dalam posisi pasien berdiri tegak dan
membungkuk ke depan.
c. Pengkajian Sistem Otot
Pengkajian sistem otot
meliputi kemampuan mengubah posisi, kekuatan dan koordinasi otot, serta ukuran
masing-masing otot. Kelemahan sekelompok otot menunjukkan berbagai kondisi
seperti polineuropati, gangguan elektrolit, miastenia grafis, poliomielitis dan
distrofi otot.
Palpasi otot dilakukan
ketika ekstrimitas rileks dan digerakkan secara pasif, perawat akan merasakan
tonus otot. Kekuatan otot dapat diukur dengan meminta pasien menggerakkan
ekstrimitas dengan atau tanpa tahanan. Misalnya, otot
d. Pengkajian Cara Berjalan
Pada pengkajian ini,
pasien diminta berjalan. Perhatikan hal berikut:
1)
Kehalusan
dan irama berjalan, gerakan teratur atau tidak
2)
Pincang
dapat disebabkan oleh nyeri atau salah satu ekstrimitas pendek.
3)
Keterbatasan
gerak sendi dapat memengaruhi cara berjalan
Abnormalitas
neurologis yang berhubungan dengan cara berjalan. Misalnya, pasien hemiparesis-stroke
menunjukkan cara berjalan spesifik, pasien dengan penyakit parkinson
menunjukkan cara berjalan bergetar.
3.2 Diagnosa
Keperawatan
1.
Nyeri
b.d nyeri tekan tulang dan kemungkinan fraktur.
2.
Gangguan
mobilitas fisik b.d nyeri dan ketidaknyamanan.
3.
Resiko
Cidera b.d penipisan tulang dan kelemahan.
4.
Harga
Diri Rendah b.d perubahan bentuk tubuh
3.3 Intervensi
Keperawatan
No.
|
Diagnosa
Keperawatan
|
Intervensi
Keperawatan
|
1.
|
Nyeri b.d nyeri tekan tulang dan kemungkinan
fraktur.
|
Tujuan
: Klien
akan melaporkan nyerinya berkurang/hilang.
Kriteria
Hasil :
1.
Klien dapat mendemonstrasikan
teknik relaksasi dengan benar
2.
TTV klien normal
3.
Wajah klien tampak tenang dan
tidak meringis
Intervensi :
1. Kaji
status nyeri (lokasi, frekuensi, durasi, dan intensitas nyeri ) gunakan skala
1-10.
2. Berikan
lingkungan dan posisi yang nyaman
3. Minimalkan
tindakan terapi yang bersifat memberi tekanan pada otot / tulang.
4. Ajarkan
teknik manajemen nyeri seperti teknik relaksasi napas dalam, visualisasi, dan
bimbingan imajinasi.
5. Kolaborasi
untuk memberikan analgesik sesuai kebutuhan untuk nyeri.
|
2.
|
Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri dan
ketidaknyamanan.
|
Tujuan
: Setelah
dilakukan perawatan, klien dapat melakukan mobilisasi dengan atau tanpa
bantuan perawat.
Kriteria
hasil :
1.
Klien dapat melakukan ROM aktif
2.
Klien dapat berpindah dengan
bantuan alat
Intervensi :
1. Lakukan
imobilisasi.
2. Ajarkan
penggunaan alat bantu berpindah.
3. Jelaskan
pada pasien tentang pentingnya pembatasan aktivitas.
4. Latihan
ROM aktif dan perpindahan maksimal 2 kali dalam sehari.
5. Anjurkan
partisipasi partisipasi aktif sesuai kemampuan dalam kegiatan sehari-hari.
|
3.
|
Resiko Cidera b.d penipisan tulang dan kelemahan.
|
Tujuan
: Setelah
dilakukan perawatan, resiko cedera dapat dihindari.
Kriteria
Hasil :
1. Klien
tidak mengalami cedera
2. Stabilisasi
tubuh dapat dipertahankan
Intervensi :
1. Ajarkan klien untuk
mempergunakan alat bantu mobilisasi.
2. Sarankan untuk
melakukan aktivitas sesuai kemampuan dan batasi aktivitas yang berlebihan.
|
4.
|
Harga Diri Rendah b.d perubahan bentuk tubuh
|
Tujuan : setelah dilakukan
perawatan klien menunjukkan penerimaan terhadap kondisinya
Kriteri hasil :
1. Klien Menunjukkan perilaku adaptasi
2. Klien menyatakan penerimaan pada
situasi ini.
Intervensi :
1. Dorong ekspresi ketakutan, perasaan
negatif dan kehilangan bagian tubuh.
2. Berikan lingkungan yang terbuka pada pasien untuk
mendiskusikan masalah yang dialami.
3. Dorong patisipasi dalam aktivitas
sehari-hari.
4. Kaji dan tingkatkan derajat dukungan
yang ada untuk pasien.
|
BAB
IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Osteomalasia adalah penyakit metabolisme tulang yang
dikarakteristikkan oleh kurangnya mineral dari tulang (menyerupai penyakit yang
menyerang anak-anak yang disebut rickets) pada orang dewasa, osteomalasia
berlangsung kronis dan terjadi deformitas skeletal, terjadi tidak separah
dengan yang menyerang anak-anak karena pada orang dewasa pertumbuhan tulang
sudah lengkap (komplit). Adapun beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya
osteomalasia : Kekurangan vitamin D, Kekurangan kalsium dalam
diet, Kelainan gastrointestinal, Malabsorbsi kalsium, Gagal ginjal kronis.
Tanda-tanda yang dapat terjadi pada penderita
osteomalsia antara lain : Nyeri tulang dan kelemahan, penurunan berat badan,
Anoreksia, Munculnya tonjolan tulang pada sambungan antara tulang iga dan
tulang rawan di bagian dada, Sakit pada seluruh tulang
tubuhnya, merasakan sakit saat duduk &
mengalami kesulitan bangun dari posisi duduk ke posisi berdiri.
Masalah keperawatan utama yang dapat muncul adalah
nyeri, risiko cedera berhubungan dengan kehilangan
integritas tulang, gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan
nyeri/ketidaknyamanan dan harga diri rendah berhubungan dengan perubahan
penampilan peran.
4.2 Saran
Osteomalasia adalah penyakit yang sangat berbahaya
dan kita harus bisa menerapkan pola hidup sehat agar kesehatan tetap terjaga. Dengan makalah ini diharapkan
seluruh komponen tenaga kesehatan pada khususnya dapat memberikan asuhan
keperawatan pada klien dengan osteomalasia secara baik dan sesuai dengan
prosedur keperawatan serta tentunya memperhatikan aspek-aspek tertentu yang
berhubungan dengan prosedur yang dilakukan.
DAFTAR
PUSTAKA
Doenges,
E, Marilyn. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan keperawatan
pasien. Edisi 3 . Jakarta : EGC, 1999
Price,
Sylvia & Loiraine M. Wilson. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit.
Edisi 4. Jakarta : EGC, 1998
Robbins,
Kumar. Buku Ajar Patofisiologi II. Edisi 4. Jakarta: EGC, 1995
Smeltzer
& Brenda G. bare. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Vol III. Edisi 8.
Jakarta : EGC, 2002
Tidak ada komentar:
Posting Komentar